Menjaga Umur Intelektual

 
Menu
Hidup adalah perjuangan untuk meraih Ridho-Nya
Penjual tempe, punya banyak hikmah
Monday, October 16, 2006
Ada seorang hamba Allah (yang berasal dari Surabaya), menceritakan kejadian seorang ibu penjual tempe. Pada suatu hari, seperti biasanya, pada saat dipagi hari ia akan pergi ke pasar untuk menjual tempenya. Ternyata, tempe yang terbuat dari kacang kedele itu masih belum jadi, alias masih setengah jadi. Ibu ini sangat sedih hatinya. tetapi jika dalam suasana sedih, si ibu yang memang aktif beribadah teringat akan firman Allah yang menyatakan bahwa “Allah dapat melakukan perkara-perkara ajaib, bahwa bagi Allah tiada yang mustahil”. Lalu iapun mengangkat kedua tangannya, berdoa diantara beberapa batangan kedele yang masih dibungkus dengan daun pisang. “Allah, aku mohon kepadaMu agar kedele ini menjadi tempe, Amin“. Demikian doa singkat si Ibu yang dipanjatkannya dengan sepenuh hatinya. Ia yakin dan percaya pasti Allah menjawab doanya. Lalu, dengan tenang ia menekan-nekan dengan ujung jarinya ke bungkusan bakal tempe tersebut, dengan hati yang deg-deg-an, ternyata masih seperti semula, belum berubah jadi tempe, si ibu tidak lantas kecewa. Ia berpikir bahwa mungkin doanya kurang jelas didengar Allah.

Kembali ia mengangkat kedua tangannya berdoa diantara beberapa batangan kedele tersebut. "Allah, aku tahu bahwa bagiMu tiada yang mustahil. Tolonglah aku supaya hari ini aku bisa berdagang tempe, karena itulah mata pencaharianku Aku mohon Allah, rubahlah kedelai ini menjadi tempe. Dengan berharap iapun kembali membuka sedikit bungkusan tersebut. Lalu apa yang terjadi? Dengan kaget ia melihat bahwa kacang kedele tersebut?????.. masih tetap begitu, belum berubah sedikitpun!

Sementara hari semakin siang, pasar tentu akan semakin ramai. Dengan tidak merasa kecewa atas doanya yang belum terkabul, si ibu tetap berangkat. Apapun yang terjadi, sebagai wujud tawakal kepada-Nya, ia tetap pergi ke pasar membawa keranjang berisi barang dagangannya itu. Ia berpikir mungkin mujijat Allah akan terjadi di tengah perjalanan ia pergi ke pasar. Lalu iapun bersiap-siap untuk berangkat ke pasar. Semua keperluannya untuk berjualan tempe seperti biasanya sudah disiapkannya. Sebelum beranjak dari rumahnya, ia sempatkan untuk mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. "Allah, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju pasar, Engkau akan mengadakan Mujijat buatku, Amin". Lalu ia pun berangkat. Di sepanjang perjalanan ia tidak lupa membaca doa dalam hati. Tidak lama kemudian sampailah ia di pasar. Dan seperti biasanya ia mengambil tempat untuk menggelar barang dagangannya. Ia yakin bahwa tempenya sekarang pasti sudah jadi. Lalu iapun membuka keranjangnya dan pelan-pelan menekan-nekan dengan jarinya bungkusan tiap bungkusan yang ada. Perlahan ia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Ternyata saudara - saudara ??? tempenya benar-benar??????? belum jadi! Si Ibu menelan ludahnya. Ia tarik napas dalam-dalam. Ia mulai kecewa pada Allah karena doanya tidak dikabulkan. Ia merasa Allah tidak adil.Allah tidak kasihan kepadanya. Padahal ia hidup hanya mengandalkan hasil menjual tempe saja. Selanjutnya, ia hanya duduk saja tanpa menggelar dagangannya karena ia tahu bahwa mana ada orang mau membeli tempe yang masih setengah jadi. Sementara hari semakin siang dan pasar sudah mulai sepi dengan pembeli. Ia melihat dagangan teman-temannya sesama penjual tempe, yang tempenya sudah hampir habis. Rata-rata tinggal sedikit lagi tersisa. Si ibu tertunduk lesu. Ia seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan hidupnya hari ini. Ia hanya bisa termenung dengan rasa kecewa yang dalam. Yang ia tahu bahwa hari itu ia tidak akan mengantongi uang sepeserpun. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sapaan seorang wanita. "Bu...?..! Maaf ya..., saya mau tanya. Apakah ibu menjual tempe yang belum jadi??". Soalnya dari tadi saya sudah keliling pasar mencarinya. Seketika si ibu tadi terperangah. Ia kaget. Sebelum ia menjawab sapaan wanita di depannya itu, dalam hati cepat-cepat ia berdoa "Allah?.saat ini aku tidak butuh tempe lagi. Aku tidak butuh lagi. Biarlah daganganku ini tetap seperti semula,Amin". Tapi kemudian, ia tidak berani menjawab wanita itu. Ia berpikir jangan-jangan selagi ia duduk duduk termenung tadi, tempenya sudah jadi. Ia sendiri saat itu dalam posisi ragu-ragu untuk menjawab ya, kepada wanita itu. "Bagaimana nih ?" ia pikir. "Kalau aku katakan iya, jangan-jangan tempenya sudah jadi. Siapa tahu tadi sudah terjadi mujijat Allah?" Ia kembali berdoa dalam hatinya, "Ya, Allah, biarlah tempeku ini tidak usah jadi tempe lagi. Kelihatannya ada orang yang mau beli. Allah tolonglah aku kali ini. Allah dengarkanlah doaku ini.." ujarnya berkali-kali. Lalu, sebelum ia menjawab wanita itu, ia pun membuka sedikit daun penutupnya. Lalu?? apa yang dilihatnya Saudara-Saudara....???..? Ternyata.... memang benar tempenya belum jadi. Ia bersorak senang dalam hatinya. "Alhamdulillah", katanya. Singkat cerita, wanita tersebut memborong semua dagangan si ibu itu. Sebelum wanita itu pergi, ia penasaran kenapa ada orang yang mau beli tempe yang belum jadi. Ia bertanya kepada si wanita. Dan wanita itu mengatakan bahwa anaknya di Yogya mau tempe yang berasal dari desanya. Berhubung tempenya akan dikirim ke Yogya, jadi ia harus membeli tempe yang belum jadi, supaya agar setibanya disana, tempenya sudah jadi. Apa yang bisa kita simpulkan dari kejadian ini ?
Pertama : Kita sering memaksakan kehendak kepada Allah, pada waktu kita berdoa, padahal sebenarnya Allah lebih mengetahui apa yang kita perlukan.
Kedua : Allah menolong kita dengan caraNya yang sama sekali di luar perkiraan kita sebelumnya. Ketiga : Tiada yang mustahil bagi Allah
Keempat: Percayalah bahwa Allah akan menjawab doa kita sesuai dengan rancanganNya.
posted by chakim @ 9:16 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
About Me

Name: chakim
Home: bogor, Indonesia
About Me:
See my complete profile
Data Tulisan
Archives
Links
Powered by

Free Blogger Templates

BLOGGER

© Menjaga Umur Intelektual Template by Isnaini Dot Com