SUATU ketika datanglah seorang abid kepada Abu Bakar Shiddiq dengan membawa makanan. Orang itu kemudian menghidangkan makanan itu untuknya. Kebetulan, saat itu Abu Bakar sedang dalam kondisi lapar berat, karena di rumahnya tidak ada sedikit pun makanan. Saking laparnya, Abu Bakar langsung menyantap makanan tersebut tanpa menelitinya terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian ia menghentikan makannya dan memanggil si abid untuk menanyakan asal-usul makanan yang diberikan kepadanya. Dengan jujur abdi itu menceritakan bagaimana ia mendapatkan makanan tersebut. Setelah itu Abu Bakar berlari ke luar dan memuntahkan kembali makanan yang telah masuk ke kerongkongannya. Ia menganggap bahwa di dalam makanan itu terdapat unsur syubhat; sesuatu yang tidak jelas halal-haramnya. Abid itu kemudian bertanya, "Apakah tuan lakukan semua ini karena hanya satu suapan saja?" Abu Bakar menjawab, "Demi Allah, jika makanan ini tidak mau keluar melainkan dengan nafasku, niscaya akan aku keluarkan juga. Tidakkah engkau mendengar sabda Rasululah SAW bahwa setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram, maka api neraka lebih berhak baginya!". ABU BAKAR adalah seorang yang sangat hati-hati dalam hidupnya. Ia tidak pernah memakan sesuatu sebelum jelas kehalalannya. Dalam terminologi agama sikap semacam ini disebut dengan wara'. Apa yang dimaksud wara? Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, "Sebagian ciri muslim yang baik adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya" (HR. Tirmidzi). Secara lebih spesifik, Ibrahim bin Adham mendefinisikan wara' sebagai sikap meninggalkan semua syubhat dan meninggalkan hal-hal yang tidak berguna. Sedangkan Asy-Syibili mengartikan wara' dengan menjauhkan diri dari segala sesuatu selain Allah SWT. Pernyataan-pernyataan di atas memperlihatkan bahwa ukuran keislaman seseorang dapat dilihat dari kemampuannya untuk meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat, termasuk dalam hal makanan, pembicaraan, harta, pemikiran, dan semua prilaku yang mungkin dilakukan. Pada dasarnya sikap wara' adalah menahan diri dari segala sesuatu yang diharamkan, dan kemudian diperluas dengan menahan diri dari hal-hal yang subhat (belum jelas halal atau haramnya). Hal ini sesuai dengan salah satu makna taqwa itu sendiri yaitu berhati-hati. BAGAIMANA caranya agar bisa bersikap wara? Caranya, kita harus berilmu. Kita tidak mungkin bersikap wara kalau kita tidak memiliki ilmu. Ilmu adalah kunci pertama dan utama yang akan membuka pintu kewaraan. Sebagai sebuah analogi, kita akan berhati-hati melewati jalan berduri, kalau kita tahu bahwa di jalan tersebut banyak duri. Tapi sebaliknya, bila kita tidak tahu bahwa di jalan itu banyak duri, maka kita akan seenak hati melewatinya tanpa menyadari adanya bahaya. Karena ilmu-lah seseorang bisa selamat dalam beragama. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata: "Tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari fitnah syubhat kecuali dengan ittiba' kepada Rasulullah SAW semata. Berhukum kepadanya dalam perkara agama, baik yang kecil maupun yang besar, lahir maupun batin, aqidah maupun amaliah, hakikat maupun syariat. Dari sana kita bisa melihat nilai strategis ilmu bagi seorang muslim. Karena itu tidak mengherankan kalau Islam memandang mulia orang yang berilmu. Lebih jauh Ibnul Qayyim mengatakan, "Pokok dari segala kebaikan adalah ilmu dan keadilan, sedangkan pokok dari segala kejahatan adalah kebodohan". |