Menjaga Umur Intelektual

 
Menu
Hidup adalah perjuangan untuk meraih Ridho-Nya
Membentuk Sikap Wara’ dengan Ilmu
Monday, April 02, 2007
SUATU ketika datanglah seorang abid kepada Abu Bakar Shiddiq dengan membawa makanan. Orang itu kemudian menghidangkan makanan itu untuknya. Kebetulan, saat itu Abu Bakar sedang dalam kondisi lapar berat, karena di rumahnya tidak ada sedikit pun makanan.
Saking laparnya, Abu Bakar langsung menyantap makanan tersebut tanpa menelitinya terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian ia menghentikan makannya dan memanggil si abid untuk menanyakan asal-usul makanan yang diberikan kepadanya.
Dengan jujur abdi itu menceritakan bagaimana ia mendapatkan makanan tersebut. Setelah itu Abu Bakar berlari ke luar dan memuntahkan kembali makanan yang telah masuk ke kerongkongannya. Ia menganggap bahwa di dalam makanan itu terdapat unsur syubhat; sesuatu yang tidak jelas halal-haramnya.
Abid itu kemudian bertanya, "Apakah tuan lakukan semua ini karena hanya satu suapan saja?" Abu Bakar menjawab, "Demi Allah, jika makanan ini tidak mau keluar melainkan dengan nafasku, niscaya akan aku keluarkan juga. Tidakkah engkau mendengar sabda Rasululah SAW bahwa setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram, maka api neraka lebih berhak baginya!".
ABU BAKAR adalah seorang yang sangat hati-hati dalam hidupnya. Ia tidak pernah memakan sesuatu sebelum jelas kehalalannya. Dalam terminologi agama sikap semacam ini disebut dengan wara'.
Apa yang dimaksud wara? Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, "Sebagian ciri muslim yang baik adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya" (HR. Tirmidzi). Secara lebih spesifik, Ibrahim bin Adham mendefinisikan wara' sebagai sikap meninggalkan semua syubhat dan meninggalkan hal-hal yang tidak berguna. Sedangkan Asy-Syibili mengartikan wara' dengan menjauhkan diri dari segala sesuatu selain Allah SWT.
Pernyataan-pernyataan di atas memperlihatkan bahwa ukuran keislaman seseorang dapat dilihat dari kemampuannya untuk meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat, termasuk dalam hal makanan, pembicaraan, harta, pemikiran, dan semua prilaku yang mungkin dilakukan.
Pada dasarnya sikap wara' adalah menahan diri dari segala sesuatu yang diharamkan, dan kemudian diperluas dengan menahan diri dari hal-hal yang subhat (belum jelas halal atau haramnya). Hal ini sesuai dengan salah satu makna taqwa itu sendiri yaitu berhati-hati.
BAGAIMANA caranya agar bisa bersikap wara? Caranya, kita harus berilmu. Kita tidak mungkin bersikap wara kalau kita tidak memiliki ilmu. Ilmu adalah kunci pertama dan utama yang akan membuka pintu kewaraan. Sebagai sebuah analogi, kita akan berhati-hati melewati jalan berduri, kalau kita tahu bahwa di jalan tersebut banyak duri. Tapi sebaliknya, bila kita tidak tahu bahwa di jalan itu banyak duri, maka kita akan seenak hati melewatinya tanpa menyadari adanya bahaya. Karena ilmu-lah seseorang bisa selamat dalam beragama.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata: "Tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari fitnah syubhat kecuali dengan ittiba' kepada Rasulullah SAW semata. Berhukum kepadanya dalam perkara agama, baik yang kecil maupun yang besar, lahir maupun batin, aqidah maupun amaliah, hakikat maupun syariat.
Dari sana kita bisa melihat nilai strategis ilmu bagi seorang muslim. Karena itu tidak mengherankan kalau Islam memandang mulia orang yang berilmu. Lebih jauh Ibnul Qayyim mengatakan, "Pokok dari segala kebaikan adalah ilmu dan keadilan, sedangkan pokok dari segala kejahatan adalah kebodohan".
posted by chakim @ 9:21 PM   0 comments
Impian, butuh perencanaan
Wednesday, January 03, 2007
Pernah nggak, sewaktu kecil ditanya sama orang “cita citamu nanti kalau sudah besar pingin jadi apa?”,..”jadi dokter, insinyur atau pingin seperti bapak?”. Mungkin bisa jadi semua orang pernah ditanya. Saat lidah ini berucap “ aku ingin jadi dokter”. Sepertinya itu hanya sepontanitas, tanpa ada perasaan apapun, apalagi perencanaan untuk menuju ke arah sana. Bisa jadi, kata itu muncul karena terpengaruh dengan temen-temen atau orang tua kita. Ya… maklum masih kecil. Belum bisa berfikir jauh.

Barangkali disaat kita sudah dewasa, sudah lupa dengan impian ketika masih kecil. Atau mungkin masih ingat, tapi sudah tidak relefan lagi dengan kondisi kita sekarang. Yang pasti, setiap orang harus punya cita-cita. Karena kalau tidak, hidup ini akan terasa hampa, dan tanpa tujuan yang jelas. Masing – masing orang sejatinya punya impian, walaupun masih terpendam dalam hati.. Tentu, hanya yang mempunyai azzam lah, yang InsyaAllah dapat mewujudkanya.

Bagaimana mewujudkan impian?
Mewujudkan impian bukanlah seperti memasak nasi di magic jar. Hanya masukin beras dan air, colokin ke listrik, tunggu sebentar langsung jadi nasi. Untuk mewujudkan impian, membutuhkan proses yang disertai dengan usaha, bukan menunggu yang diimpikan datang secara tiba-tiba, tanpa perjuangan. Kalau hati ini sudah ber azzam maka tawakkal ‘alallah. Asalkan impian yang ingin kita raih, hanya untuk mencari ridlo-Nya. Bagaimana mewujudkanya?, sebelumnya kita tentukan dulu, impian apa yang ingin diraih. Setelah itu, harus diketahui secara terperinci berkaitan dengan potensi diri atau kemampuan, perencanaan, waktu tempuh, evaluasi, dan selalu istiqomah. InsyaAllah kalau semua itu dilakukan, akan berhasil. Jangan lupa selalu semangati diri dengan “ kalau kita berfikir bisa InsyaAllah bisa”.

Pernahkah kita berfikir sesuatu yang diimpikan?, apakah sesuai dengan potensi diri dan kemampuan? Kalau sudah dirasa mampu untuk mencapainya, sudahkah ada perencanaan atau tahap-tahap dalam mencapainya?, berapa waktu yang diperlukan untuk mencapainya?, evaluasi setiap tiga bulan, atau perbulan, bahkan setiap pekan pernahkan dilakukan?. Dan yang tidak kalah penting nya adalah istiqomah, Tanpa istiqomah cita – cita apapun yang menurut kita itu adalah hal yang relatif mudah sekalipun. Dapat dipastikan akan berakhir dengan kegagalan.

Kalau seandainya kita ingin bisa menjadi penulis atau minimal bisa nulis, merangkai kata menjadi sebuah makna. Yang bisa memberikan pencerahan, mencerdaskan dan memberi pengaruh. Maka lakukanlah dari sekarang, tahapan untuk mewujudkan impian itu. Karna dengan menulis, akan memperpanjang umur intelektual. Kita tau Imam Syafi’i, beliau hidup berapa ratus taun yang lalu, tapi kenapa terasa dekat sekali dengan kita. Karna beliau mempunyai karya-karya yang hebat berupa buku (hasil dari menulis), yang sampai sekarang masih kita rasakan goresan tintanya. Kitab Al UMM salah satu karya Imam Syafi’i, rasanya baru kemaren kitab itu ditulis. Padahal sudah ratusan taun yang lalu, dipersembahkan oleh beliau.
posted by chakim @ 7:37 PM   1 comments
Penjual tempe, punya banyak hikmah
Monday, October 16, 2006
Ada seorang hamba Allah (yang berasal dari Surabaya), menceritakan kejadian seorang ibu penjual tempe. Pada suatu hari, seperti biasanya, pada saat dipagi hari ia akan pergi ke pasar untuk menjual tempenya. Ternyata, tempe yang terbuat dari kacang kedele itu masih belum jadi, alias masih setengah jadi. Ibu ini sangat sedih hatinya. tetapi jika dalam suasana sedih, si ibu yang memang aktif beribadah teringat akan firman Allah yang menyatakan bahwa “Allah dapat melakukan perkara-perkara ajaib, bahwa bagi Allah tiada yang mustahil”. Lalu iapun mengangkat kedua tangannya, berdoa diantara beberapa batangan kedele yang masih dibungkus dengan daun pisang. “Allah, aku mohon kepadaMu agar kedele ini menjadi tempe, Amin“. Demikian doa singkat si Ibu yang dipanjatkannya dengan sepenuh hatinya. Ia yakin dan percaya pasti Allah menjawab doanya. Lalu, dengan tenang ia menekan-nekan dengan ujung jarinya ke bungkusan bakal tempe tersebut, dengan hati yang deg-deg-an, ternyata masih seperti semula, belum berubah jadi tempe, si ibu tidak lantas kecewa. Ia berpikir bahwa mungkin doanya kurang jelas didengar Allah.

Kembali ia mengangkat kedua tangannya berdoa diantara beberapa batangan kedele tersebut. "Allah, aku tahu bahwa bagiMu tiada yang mustahil. Tolonglah aku supaya hari ini aku bisa berdagang tempe, karena itulah mata pencaharianku Aku mohon Allah, rubahlah kedelai ini menjadi tempe. Dengan berharap iapun kembali membuka sedikit bungkusan tersebut. Lalu apa yang terjadi? Dengan kaget ia melihat bahwa kacang kedele tersebut?????.. masih tetap begitu, belum berubah sedikitpun!

Sementara hari semakin siang, pasar tentu akan semakin ramai. Dengan tidak merasa kecewa atas doanya yang belum terkabul, si ibu tetap berangkat. Apapun yang terjadi, sebagai wujud tawakal kepada-Nya, ia tetap pergi ke pasar membawa keranjang berisi barang dagangannya itu. Ia berpikir mungkin mujijat Allah akan terjadi di tengah perjalanan ia pergi ke pasar. Lalu iapun bersiap-siap untuk berangkat ke pasar. Semua keperluannya untuk berjualan tempe seperti biasanya sudah disiapkannya. Sebelum beranjak dari rumahnya, ia sempatkan untuk mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. "Allah, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju pasar, Engkau akan mengadakan Mujijat buatku, Amin". Lalu ia pun berangkat. Di sepanjang perjalanan ia tidak lupa membaca doa dalam hati. Tidak lama kemudian sampailah ia di pasar. Dan seperti biasanya ia mengambil tempat untuk menggelar barang dagangannya. Ia yakin bahwa tempenya sekarang pasti sudah jadi. Lalu iapun membuka keranjangnya dan pelan-pelan menekan-nekan dengan jarinya bungkusan tiap bungkusan yang ada. Perlahan ia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Ternyata saudara - saudara ??? tempenya benar-benar??????? belum jadi! Si Ibu menelan ludahnya. Ia tarik napas dalam-dalam. Ia mulai kecewa pada Allah karena doanya tidak dikabulkan. Ia merasa Allah tidak adil.Allah tidak kasihan kepadanya. Padahal ia hidup hanya mengandalkan hasil menjual tempe saja. Selanjutnya, ia hanya duduk saja tanpa menggelar dagangannya karena ia tahu bahwa mana ada orang mau membeli tempe yang masih setengah jadi. Sementara hari semakin siang dan pasar sudah mulai sepi dengan pembeli. Ia melihat dagangan teman-temannya sesama penjual tempe, yang tempenya sudah hampir habis. Rata-rata tinggal sedikit lagi tersisa. Si ibu tertunduk lesu. Ia seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan hidupnya hari ini. Ia hanya bisa termenung dengan rasa kecewa yang dalam. Yang ia tahu bahwa hari itu ia tidak akan mengantongi uang sepeserpun. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sapaan seorang wanita. "Bu...?..! Maaf ya..., saya mau tanya. Apakah ibu menjual tempe yang belum jadi??". Soalnya dari tadi saya sudah keliling pasar mencarinya. Seketika si ibu tadi terperangah. Ia kaget. Sebelum ia menjawab sapaan wanita di depannya itu, dalam hati cepat-cepat ia berdoa "Allah?.saat ini aku tidak butuh tempe lagi. Aku tidak butuh lagi. Biarlah daganganku ini tetap seperti semula,Amin". Tapi kemudian, ia tidak berani menjawab wanita itu. Ia berpikir jangan-jangan selagi ia duduk duduk termenung tadi, tempenya sudah jadi. Ia sendiri saat itu dalam posisi ragu-ragu untuk menjawab ya, kepada wanita itu. "Bagaimana nih ?" ia pikir. "Kalau aku katakan iya, jangan-jangan tempenya sudah jadi. Siapa tahu tadi sudah terjadi mujijat Allah?" Ia kembali berdoa dalam hatinya, "Ya, Allah, biarlah tempeku ini tidak usah jadi tempe lagi. Kelihatannya ada orang yang mau beli. Allah tolonglah aku kali ini. Allah dengarkanlah doaku ini.." ujarnya berkali-kali. Lalu, sebelum ia menjawab wanita itu, ia pun membuka sedikit daun penutupnya. Lalu?? apa yang dilihatnya Saudara-Saudara....???..? Ternyata.... memang benar tempenya belum jadi. Ia bersorak senang dalam hatinya. "Alhamdulillah", katanya. Singkat cerita, wanita tersebut memborong semua dagangan si ibu itu. Sebelum wanita itu pergi, ia penasaran kenapa ada orang yang mau beli tempe yang belum jadi. Ia bertanya kepada si wanita. Dan wanita itu mengatakan bahwa anaknya di Yogya mau tempe yang berasal dari desanya. Berhubung tempenya akan dikirim ke Yogya, jadi ia harus membeli tempe yang belum jadi, supaya agar setibanya disana, tempenya sudah jadi. Apa yang bisa kita simpulkan dari kejadian ini ?
Pertama : Kita sering memaksakan kehendak kepada Allah, pada waktu kita berdoa, padahal sebenarnya Allah lebih mengetahui apa yang kita perlukan.
Kedua : Allah menolong kita dengan caraNya yang sama sekali di luar perkiraan kita sebelumnya. Ketiga : Tiada yang mustahil bagi Allah
Keempat: Percayalah bahwa Allah akan menjawab doa kita sesuai dengan rancanganNya.
posted by chakim @ 9:16 PM   0 comments
About Me

Name: chakim
Home: bogor, Indonesia
About Me:
See my complete profile
Data Tulisan
Archives
Links
Powered by

Free Blogger Templates

BLOGGER

© Menjaga Umur Intelektual Template by Isnaini Dot Com